Pengusaha Minta Pemerintah Lakukan Recovery Ekonomi Massal

  • Whatsapp
Ketua Kadin Kepri Ahmad Maruf MAulana.(ist)

Liputan98.com, – Risiko terjadinya kelumpuhan permanen di beberapa unsur dalam dunia usaha cukup mencengangkan. Ditambah, pemulihan daya beli masyarakat dan daya produksi pengusaha tidak dilakukan secara inklusif yang dibantu oleh pemerintah secara masal.

Beberapa sektor dipastikan tidak dapat mengumpulkan devisa seperti tahun sebelumnya. Seperti sektor pariwisata yang tahun 2019 lalu mampu menyumbang devisa sekitar Rp 280 triliun justru tidak bisa diharapkan pada tahun 2020 ini.

Sektor industri juga yang paling terdampak, daya beli masih dibawa rata-rata yang berimbas pada produksi yang melambat. Bahan baku yang sulit di datangkan dari negara tetangga, membuat kondisi semakin parah.

Pengusaha di bawah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai perekonomian Indonesia akan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi antara -4% sampai -6% di kuartal II 2020. Hal ini dikarenakan proses stimulasi penanganan Covid-19 masih sangat lambat.

Jika kondisi itu tidak juga bisa dipenuhi oleh kalangan birokrat, Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani menilai maka dunia usaha akan semakin terjepit. Lebih ekstrim, Rosan menilai di kuartal III 2020 akan terjadi kontraksi ekonomi, bahkan terjadinya resesi apabila tidak terjadi peningkatan.

“Kadin Indonesia telah memberikan pandangan sebelumnya bahwa pertumbuhan ekonomi (2,96%) di kuartal I tidak akan setinggi prakira sebelumnya dan bahkan beberapa faktor yang memperlambat pertumbuhan di kuartal I semakin nyata dialami dunia usaha ataupun sektor riil di kuartal II 2020,” sebut Rosan.

Peningkatan musti segera dilakukan dengan cara ketepatan, kecepatan, dan keterpaduan dalam kebijakan pemulihan ekonomi. Hal ini juga sudah diwanti-wanti oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Bahkan, Menkeu memnyebut ekonomi RI masih akan melambat paska pendemi melanda.

“Penyerapan diberbagai bidang, seperti kesehatan baru 1,54%, perlindungan sosial di 28,63%, insentif usaha 6,8%, UMKM 0,06%, korporasi 0% dan sektoral pada 3,65%, ini akan membuat tekanan terhadap pemulihan kesehatan, jejaring pengamanan sosial dan perekonomian menjadi lebih berat,” Katanya, dalam keterangan resmi dikutip CNBC Indonesia, Sabtu (3/7).

Hal senada juga disampaikan Ketua Kadin Kepri Ahmad Maruf Maulana. Menurutnya, pemulihan ekonomi (Recovery Economi) yang berafiliasi dari sektor industri harus segera dilakukan. Apalagi, Kepri khususnya menjadi daerah yang terdampak akibat penyebaran Virus Corona, yang menghantam segala sektor yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Melakukan recovery ekonomi, mendatangkan investasi baru harus segara dijalankan oleh pemerintah daerah supaya dapat meningkatkan perekonomian. Belum lagi, kita akan disibukan oleh peroses dan tahapan Pilkada 2020 yang akan menyedot perhatian, dan anggaran. Intinya, calon Kepala Daerah harus bisa membangkitkan iklim investasi, mendatangkan investor, melakukan produksi produk impor supaya menggerakan ekonomi ditengah masyarakat,” katanya, Minggu (5/7) di Batam.(nug)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.