Pelaku Rekrutment WNI jadi ABK Kapal Cina Ditangkap Polisi

  • Whatsapp
Kabis Humas Polda Kepri Kombes Harry Goldenhart saat menunjukan tersangka dan brang bukti.(ist)

Liputan98.com, Batam – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kepri terus bergerak mengejar pelaku rekrutmen Anak Buah Kapal yang bekerja di kapal ikan Cina secara Ilegal. Alhasil, sindikat itu berhasil dibongkar polisi dengan mengamankan lima orang tersangaka beserta barang bukti.

Lima orang tersangka itu berinisial SD, HA, MH, AY dan SY. Kelimanya diamanakan oleh Ditreskrimum Polda Kepri di Provinsi Lampung dan Jawa Tengah. Para tersangka terlibat pengiriman pekerja migran ilegal ke kapal Cina yang berakhir dengan aksi nekad dua ABK WNI terjun ke laut karena tidak tahan disiksa diatas kapal.

Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Harry Goldenhardt mengatakan, kuat dugaan kelima tersangka juga terlibat tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Kima tersangka memiliki peran berbeda saat proses rekrutmet berlangsung, biasanya mereka mendapat keuntungan sebesar Rp.10 juta per ABK yang dikirim ke luar negri.

“SY yang berperan sebagai perantara, untuk penghubung dengan korporasi yang ada di luar negri peran AY, sedangkan yang berperan dalam pengurusan buku pelaut dan medical Check Up dengan keuntungan yang bervariasi,” katanya, Jumat (10/7) di Batam.

Kasus ini, kata Harry, berkolerasi dengan tindak pidana pemalsuan dokumen sertifikat Basic Safety Training (BST) yang sedang disidik oleh Polres Metro Jakarta Utara. Dalam kasus itu, polisi juga mengamankan empat orang tersangka. Kasus ini juga melibatkan PT. Mandiri Tunggal Bahari yang sedang ditangani oleh Polda Jawa Tengah, sejumlah susunan direktur dan komisarisnya juga telah diamankan.

“Sindikat ini dipastikan dengan barang bukti terlibat pengiriman TKI yang menjadi ABK di kapal Fulu-Qing Yuan Yu 901 berbendera Cina. Saat bekerja para WNI yang jadi korban tak mendapat gaji dan senantiasa diintimidasi serta penganiayaan dari kru kapal asing hingga nekad terjun ke laut,” ujarnya.

Dalam kasus ini, Harry menegaskan, para tersangka akan dijerat dengan Pasal 2 dan 4 UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan ancaman pidana paling lama 15 tahun penjara serta denda paling banyak Rp.600 juta.(nug)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.