Pinjaman Tanpa Bunga Dorong Ekonomi Rakyat Tumbuh

  • Whatsapp
Ilustrasi kredit finansial.(net)

Liputan98.com, Jakarta – Pemerintah berencana memberikan pinjaman nol persen atau tanpa bunga untuk rumah tangga sebagai stimulus percepatan pemulihan ekonomi nasional. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai program itu relatif baik dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya sempat terkoreksi negatif pada kuartal II 2020.

“Konsumsi rumah tangga berkontribusi besar dalam produk domestik bruto (PDB), sehingga wajar jika pemerintah memberikan bantuan pinjaman tanpa bunga karena untuk mendorong konsumsi rumah tangga pada kuartal III nanti,” kata Yusuf Rendy Manilet di Jakarta, Jumat (7/8).

Baca jugaGawat! Pertumbuhan Ekonomi Kepri Terendah se Sumatra

Merujuk data Badan Pusat Statistik, angka pertumbuhan ekonomi nasional kuartal II 2020 minus 5,32 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar 5,07 persen.

Kontraksi terbesar dipicu pertumbuhan negatif pada sektor konsumsi rumah tangga, yakni minus 2,96 persen. Seperti diketahui, selama ini konsumsi rumah tangga merupakan motor penggerak ekonomi terbesar bagi Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi yang negatif itu merupakan yang terendah dalam dua dekade terakhir. Kala itu, Indonesia sempat mengalami krisis finansial Asia pada awal 1999, sehingga membuat ekonomi nasional terkerek 6,13 persen.

Baca juga Perekonomian Kepri Terjun Bebas pada Semester I 2020

Kendati demikian, lanjut Yusuf, pemerintah perlu memikirkan skema penyaluran pinjaman agar efektif dan tepat sasaran.

“Beberapa pendekatan penyaluran bisa dilakukan pemerintah melalui program-program yang sudah ada, misalnya bantuan langsung tunai (BLT) dana desa maupun program keluarga harapan (PKH),” kata Yusuf.

Selain itu, pemerintah dapat membuka peluang untuk menggandeng perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi keuangan, terkhusus fintect pembiayaan.

Langkah itu akan memudahkan masyarakat dalam mengambil uang, karena uang langsung ditransfer ke rekening penerima sehingga mereka tidak perlu lagi datang ke bank atau kantor pos.

“Kalau berbicara fintech tentu secara profil resiko sedikit di bawah lembaga keuangan konvensional, seperti bank,” kata Yusuf.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.