Video Terima Amplop Beredar, Begini Pengakuan Said Aqil Siradj

  • Whatsapp
video berdurasi 7 detik beredar, terlihat Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj menerima amplop tebal.(ist)

Liputan98.com, Jakarta – Jagat Maya dibuat geger dengan sebuah utas yang disebar oleh akun @_KingPurwa di media sosial Twitter. Utas tersbut berisi rekaman video berdurasi 7 detik tersebut terlihat Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj menerima amplop tebal dari seseorang di sebuah rumah.

Tokoh ulama tersebut, terlihat menggenggam sebuah amplot berwarna coklat yang sebelumnya diberikan oleh sesorang didalam video.

Read More

Namun, caption yang diunggah dalam utas itu bernada satir. King Purwa seperti sengaja tidak menyinggung langsung amplop berwarna cokelat yang berpindah tangan dalam video itu. Akun ini hanya menulis keterangan mengenai penggunaan masker Kiai Said yang tidak sesuai aturan protokol kesehatan, di mana masker menempel di dagu dan bukan di hidung.

Sementara warganet seolah paham bahwa yang ingin disasar King Purwa adalah perpindahan amplop tebal berwarna cokelat. Tidak sedikit yang kemudian melontarkan kritik pedas kepada pemimpin ormas Islam terbesar di tanah air tersebut.

Tidak sedikit Netizen yang kemudian melontarkan kritik pedas kepada pemimpin ormas Islam terbesar di tanah air tersebut.

Dalam keterangannya dibeberapa media, Kiai Said mengaku sudah menolak pemberian amplop tersebut. Apalagi jika amplop diberikan untuk pribadi dirinya. Tapi si pemberi terus memaksa agar amplop diterima.

“Sebetulnya saya menolak itu, menolak tapi dia maksa-maksa,” kata Said Aqil kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (24/8).

Ketum PBNU dari tahun 2010 ini menegaskan bahwa uang tebal di dalam amplop berwarna cokelat itu sempat ditolaknya. Hingga akhirnya orang yang memberi terus memaksa. Puncaknya, orang yang memberi itu mengatakan bahwa amplop diberikan untuk pesantren. Atas alasan itu, akhirnya Kiai Said menerima.

“Saya nolak itu, kemudian dia maksa. Akhirnya untuk pesantren. Saya kan punya pesantren Assaqofah kan. Yang pesantrennya, yang sangat murah. Paling murah di Jakarta,” jelasnya tanpa merinci profil pemberi amplop.

Soal finansial, kata Said, dia mengatakan dalam kondisi yang berkecukupan. Mustahil baginya menerima amplop hanya untuk kebutuhan pribadinya sendiri.

“Kalau saya sudah mapan, sudah cukup alhamdulillah, enggak usah amplop-amplopan,” tandasnya.(rmol)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.